Sabtu, 09 Februari 2008

IMSOMNIA

Ini malam ke 3 aku nggak bisa tidur.Kadang aku sendiri bingung dengan siklus tubuhku sendiri,dan keadaan ini sudah aku alami selama hampir 5 bulan ini.Kalaupun aku bisa tidur paling banter cuma 2-3 jam. Aku jadi ingat sebuah stasiun radio di bandung yang selalu menyapa pendengarnya dengansebutan Para Pelintas Malam.Ya bisa di katakan aku sekarang menjadi seorang Pelintas Malam. Ada keasyikan tersendiri ketika tengah malam kita sendirian ,bergelut dengan pikiran sendiri dan hanya di temani kopi sama rokok. Biasanya aku habiskan malam kalau nggak baca buku ya paling-paling menulis omong kosong di buku journal yang emang selalu menemaniku hampir selama 10 tahun ini.Buku itu aku design sendiri dengan ketebalan hampir 1500 halaman. Aku jadi ingat pernah menulis di buku itu sekitar 5 tahun yang lalu ketika usiaku genap 30 tahun semacam testemonial diri.
Aku coba menuliskan harapan-harapanku ke depan.dan ternyata apa yang ku harapkan tersebut sampai saat ini bukannya terwujud namun malah menjadi semakin runyam.
Ternyata memang benar kata orang-orang tua bahwa jangan menggantungkan mimpi terlalu tinggi, jatuhnya pasti akan sakit sekali. dan itun kurasakan sekarang.
Kadang aku sering berkata pada diriku sendiri it's okey, but hati ternyata tak bisa di tipu. you've got to get your self together now you stuck in the moment and you can't get out of it ,ya U2 benar that's what i'm fell it right now. Aku rindu seorang teman yang bisa ngobrol,sharing dengan aku dan celakanya saat ini aku nggak punya teman semacam itu sekarang. Ini malam ke 3 aku nggak bisa tidur ..........


SEBUAH JEDA

Kita tertawa lalu terluka

Di ruang-ruang bawah sadar

kita adalah penyangsi

Selalu ada getir tersisa

ketika bertemu realita

Selalu ada ampas kepedihan

kala sanggama

lelapkan kita pada mimpi

januari 24, 2008

SURAT UNTUK E

E, bisakah kau meramalkan apa yang terjadi 5 atau 10 tahun ke depan? apa yang terjadi dengan nasib kita? pilihan-pilihan apa yang tersisa untuk jalan hidup kita? seberapa kuat kita menahan beban hidup? seberapa tahan kita melawan tekanan-tekanan keadaan? seberapa kuat kita menggenggam keyakinan,ketika nurani di sekitar semakin kikis oleh kerakusan. Ketika batin tak lagi bisa merasakan penderitaan-penderitaan dan kita hanya termangu dan berpikir inikah hidup?


E, hakikat apa yang Tuhan inginkan dari manusia? Seorang pujangga besar pernah berkata,” Pada hakikatnya bayi yang lahir ke dunia adakah pesan dariNya bahwa Ia belumlah jera pada manusia”. Aku meragukan itu E, Aku melihat ’senjakala manusia’ Bertanbahnya kecerdasan manusia ternyata tidak juga membuat manusia belajar dari kebodohan-kebodohan purba.Sejarah peradaban manusia tak juga mampu membuka mata hati kemanusiaan,lahirnya agama-agama besar hanya menumbuhkan luka dan majunya pencapaian tehnologi hanya semakin menambah canggihnya pemikiran untuk menguasai dan menaklukan.

E, aku berdiri di titik nadir keyakinanku,aku selalu bertanya,apakah layak hidup untuk dijalani. aku terlanjur tak percaya dengan niat manusia.
Mereka yang katanya ahli ekonomi,ahli politik,ahli agama,ahli segala-galanya teryata tak lebih daris eorang aktor. Kita kehilangan sisi manusia kita. Kita telah menyerahkan hidup pada nafsu,pada benda-benda,pada pangkat,pada status,pada kekuasaan.Kita telah menghamba pada harta dan kemahsyuran dan yang lahir dari itu semua adalah kemunafikan,kebohongan,kerakusan,kelicikan,dan penghancuran dan yang mati dari itu semua adalah mata hati,nurani,kejujuran,keadilan dan kemanusiaan

… sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati.