Minggu, 10 Februari 2008
SAATNYA BERPIKIR MERDEKA
Sejak kecil kita di didik oleh sistem pendidikan yang tidak membebaskan kita untuk berpikir merdeka, baik itu oleh orang tua ataupun oleh dunia pendidikan. keadaan tersebut bukan karena kesalahan seutuhnya dari kita melainkan dari peninggalan kolonial yang telah berumur3,5 abad.
Dengan kurun waktu tersebut ternyata telah membuat mental serta psikologis kita sebagai bangsa jajahan tidak bisa hilang begitu saja,keadaan tersebut diperparah dengan kondisi negeri ini setelah 1945, begitu riuhnya kondisi bangsa kita yang baru merdeka sehingga membuat energi kita tersedot dalam pusaran intrik-intrik kekuasaan yang puncaknya adalah dekrit presiden tahun 1958.
Mulai tahun tersebut praktis kebebasan berpikir di kebiri,yang ada adalah kesatuan pikiran berdasar demokrasi terpimpin Presiden Sukarno. Era sukarno berakhir,Orde Baru Lahir.Lagi-lagi atas nama stabilitas dan pembangunan Rezim ini meniadakan kebebasan berpikir dan berpendapat.Lebih parahnya lagi pemerintahan ORBA mengawalnya dengan gaya totalitarian yang praktis meniadakan kebebasan berpikir & berpendapat sengan pengawasan ketat sampai tingkat terbawah.Era Reformasi datang tahun1998 memberikan harapan dengan menggembor-gemborkan demokrasi sebagai garda depannya namun apa lacur harapan tersebut berbanding terbalik denagn kenyataan,yang terjadi adalah Chaos di dalam tubuh pemerintahan sendiri hingga kembali kita di bingungkan oleh keadaan.
Dari 350 tahun dijajah oleh kolonial hingga 62 tahun kemerdekaan kita tak pernah sedikitpun merasa telah berpikir merdeka.
lalu apa itu ” Berpikir Merdeka“. Berpikir merdeka adalah berpikir tanpa harus takut bahwa apa yang menjadi hak dasar kita sebagi manusia akan menjadi hilang dan di hilangkan. Berani menyatakan bahwa yang benar adalah benar yang salah adalah salah. berani melawan arus ketika apa yang diaminiorang banyak ternyata belum tentu menjadi sebuah keyakinan yang benar. Berani melawan intimidasi dan ancaman. intinya adalah tidak pernah takut untuk menyatakan pendapat dan pikiran walau itu didepan ancaman mati sekalipun.
Lalu apa yang terjadi di masyarakat sampai hari ini? telahkah kita berpikir merdeka?
Sayangnya belum . Kita terlalu sibuk dengan puak,dengan kelompok,dengan aliran hingga kita akhirnya terpenjara dengan doktrin-doktrin. Kita terlalu berkutat dengan siapa yang menjadi mayoritas,siapa yang superior hingga kadang memaksakan pemikiran yang jelas-jelas tidak bisa diterima oleh orang lain. Yang terjadi kemudian adalah konflik dan perseteruan memperebutkan kebenaran sendiri-sendiri.
Kita terlalu gampang dipengaruhi oleh dogma-dogma kelompok yang membelenggu pikiran untuk bisa berkata lain. Dogma-dogma yang memenjara pikiran untuk merdeka.(aksaradhana)
C’est la vie
Berbahagialah kamu yang memiliki wajah rupawan,
karir menawan,dan hidup yang berkelebihan,
sebab bagimu hidup lebih terasa mudah untuk di nikmati,
dunia lebih terasa ramah untuk di arungi.
Peluang karir,jodoh,kemahsyuran,dan limpahan
materi lebih bersahabat pada nasibmu. bersuka citalah …
bersyukurlah kamu yang hanya memiliki wajah pas-pasan
karir tanpa kejelasan dan hidup yang ngos-ngosan,
sebab hidup telah memilihmu menjadi petarung tangguh,
yang meski berat toh kita masih bisa tertawa di kala uang tak ada,
masih sanggup tersenyum ketika esok entah derita apa yang melanda.
tersenyumlah , karena hidup yang sebenarnya berkaca
kepadamu, karena cinta yang nyata tumbuh
darimu tanpa rekayasa…
tanpa kata-kata...

